Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Endrizal: Rendang Jadi Produk Unggulan UMKM Sumbar, Bidik Pasar Haji dan Umrah

Selasa, 23 Juni 2026 | Juni 23, 2026 WIB Last Updated 2026-06-24T04:24:19Z

Tegassumbar,Padang - Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terus memperkuat pengembangan industri rendang sebagai salah satu produk unggulan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dinilai memiliki prospek besar di pasar nasional maupun internasional.


Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sumatera Barat, Endrizal, mengatakan pengembangan industri rendang dilakukan melalui peningkatan kualitas produk, perluasan akses pasar, serta efisiensi biaya produksi agar mampu bersaing dengan produk sejenis dari daerah lain.


Menurutnya, rendang memiliki posisi strategis karena merupakan produk yang telah dikenal luas dan mudah ditemukan di berbagai daerah di Sumatera Barat.


“Pertama, kami melihat rendang ini di mana-mana di Sumatera Barat ada. Maka tentu kita meningkatkan kualitasnya, bagaimana pemasarannya, dan bagaimana ongkos produksinya bisa ditekan sehingga menjadi kompetitif dengan produk-produk lainnya,” kata Endrizal, Selasa (23/6/2026).


Selain memperkuat pasar yang telah ada, Pemprov Sumbar juga menargetkan perluasan pasar rendang ke sektor perjalanan haji dan umrah. Peluang tersebut dinilai cukup besar mengingat tingginya jumlah jemaah Indonesia yang berangkat ke Tanah Suci setiap tahun.


“Harapan kita ke depan, bagaimana perjalanan haji dan umrah bisa diisi oleh para pengusaha rendang ini. Ini peluang pasar yang sangat besar bagi pelaku UMKM kita,” ujarnya.


Di sisi lain, pemerintah juga berupaya meningkatkan daya saing industri rendang melalui penurunan biaya produksi. Endrizal menjelaskan, langkah tersebut dapat ditempuh dengan meningkatkan produktivitas serta memastikan ketersediaan bahan baku yang dibutuhkan pelaku usaha.


Ia mencontohkan, biaya produksi rendang yang saat ini berkisar Rp70 ribu per kilogram diharapkan dapat ditekan menjadi sekitar Rp60 ribu per kilogram sehingga harga jual produk menjadi lebih kompetitif.


“Misalnya satu kilogram produksi membutuhkan biaya sekitar Rp70 ribu. Bagaimana kita tekan menjadi Rp60 ribu sehingga daya saingnya meningkat. Salah satu caranya adalah pemerintah mendorong ketersediaan bahan baku, termasuk program sejuta kelapa yang didorong melalui Dinas Pertanian,” jelasnya.


Untuk mendukung upaya tersebut, Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar juga mendorong pembentukan koperasi dan UMKM yang bergerak di sektor penyediaan bahan baku rendang. Langkah ini dinilai penting mengingat rendang membutuhkan sekitar 23 jenis bahan baku yang sebagian harganya masih berfluktuasi di pasar.


Dengan keterlibatan koperasi dalam rantai pasok bahan baku, pemerintah berharap biaya produksi dapat ditekan, pasokan lebih terjamin, dan industri rendang Sumatera Barat semakin berkembang serta mampu menembus pasar yang lebih luas.


Penguatan ekosistem industri rendang tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam mendorong UMKM berbasis produk unggulan lokal agar memiliki nilai tambah, berdaya saing, dan berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian daerah.

×
Berita Terbaru Update